Office 39, Markas yang Bikin Kim Jong-un Bisa Hidup Mewah
Tangkasnet - Proses persalinan Caesar biasanya diambil lantaran menghindari risiko ancaman keselamatan, baik bagi ibu maupun bayi. Namun pilihan ini pun membawa konsekuensi imun anak lahir Caesar berbeda dengan anak dengan proses kelahiran normal.
Salah satunya menurut konsultan alergi dan imunologi anak, Profesor Budi Setiabudiawan, anak yang lahir Caesar akan lebih berisiko mengalami alergi daripada anak lahir normal (vaginal birth). Selain dari faktor riwayat orang tua, risiko alergi ini juga dipengaruhi oleh imunitas anak.
"Kalau dia lahir secara Caesar, perkembangan mikrobiota normal di usus akan terlambat, tidak akan optimal sehingga terjadi perubahan pada sistem imun anak dan berisiko timbul di kemudian hari," kata Budi seperti dikutip dari Antara.
Sedangkan, Budi melanjutkan, mikrobiota di saluran cerna anak yang lahir normal akan lebih optimal. Kondisi ini memungkinkan risiko alergi pun menjadi lebih rendah.
Tapi mengapa bisa demikian?
Sistem imunitas atau kekebalan tubuh ditentukan salah satunya oleh interaksi pertama tubuh bayi dengan bakteri. Kondisi inilah yang membedakan pada proses anak yang lahir Caesar dengan normal.
Sejumlah studi menyebut mikrobiota anak dibentuk oleh bakteri yang mereka telan di jalan atau jalur lahir. Melansir dari Guardian, temuan baru menunjukkan bahwa mikrobiota anak lahir normal bukan berasal dari vagina melainkan dari usus ibu yang mungkin diambil pada saat kelahiran.
Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Nature, anak lahir normal mengambil sebagian besar dosis awal mikrobiota dari ibu mereka. Sedangkan anak yang lahir Caesar lebih banyak terpapar mikrobiota terkait lingkungan rumah sakit.
Temuan tersebut mampu menjelaskan tingginya prevalensi asma, alergi dan kondisi imun lainnya pada anak yang lahir Caesar.
"Bagaimana fungsi sistem kekebalan tubuh Anda sepanjang hidup Anda mungkin dipengaruhi oleh interaksi pertamanya dengan bakteri. Jika ada perbedaan hasil kesehatan jangka panjang dengan pola (bakteri) yang berbeda, itu memberi tahu kita sesuatu yang sangat penting tentang kesehatan," ungkap Nigel Field, penulis senior dalam studi, dari University College London, dikutip dari Guardian.
Para peneliti melakukan studi selama tujuh tahun. Mereka melibatkan lebih dari seribu sampel tinja dari hampir 600 bayi dan sebanyak 175 ibu.
Sebenarnya, bayi dalam kondisi steril ketika di rahim. Namun kondisi ini berubah ketika mereka lahir dan terpapar dunia luar. Bayi mulai 'mengonsumsi' bakteri yang dengan cepat bisa menjajah usus.
Meski demikian, peneliti mengingatkan jangan sampai temuan ini membuat ibu yang sudah pernah Caesar atau berencana Caesar khawatir.
Salah satunya menurut konsultan alergi dan imunologi anak, Profesor Budi Setiabudiawan, anak yang lahir Caesar akan lebih berisiko mengalami alergi daripada anak lahir normal (vaginal birth). Selain dari faktor riwayat orang tua, risiko alergi ini juga dipengaruhi oleh imunitas anak.
"Kalau dia lahir secara Caesar, perkembangan mikrobiota normal di usus akan terlambat, tidak akan optimal sehingga terjadi perubahan pada sistem imun anak dan berisiko timbul di kemudian hari," kata Budi seperti dikutip dari Antara.
Sedangkan, Budi melanjutkan, mikrobiota di saluran cerna anak yang lahir normal akan lebih optimal. Kondisi ini memungkinkan risiko alergi pun menjadi lebih rendah.
Tapi mengapa bisa demikian?
Sistem imunitas atau kekebalan tubuh ditentukan salah satunya oleh interaksi pertama tubuh bayi dengan bakteri. Kondisi inilah yang membedakan pada proses anak yang lahir Caesar dengan normal.
Sejumlah studi menyebut mikrobiota anak dibentuk oleh bakteri yang mereka telan di jalan atau jalur lahir. Melansir dari Guardian, temuan baru menunjukkan bahwa mikrobiota anak lahir normal bukan berasal dari vagina melainkan dari usus ibu yang mungkin diambil pada saat kelahiran.
Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Nature, anak lahir normal mengambil sebagian besar dosis awal mikrobiota dari ibu mereka. Sedangkan anak yang lahir Caesar lebih banyak terpapar mikrobiota terkait lingkungan rumah sakit.
Temuan tersebut mampu menjelaskan tingginya prevalensi asma, alergi dan kondisi imun lainnya pada anak yang lahir Caesar.
"Bagaimana fungsi sistem kekebalan tubuh Anda sepanjang hidup Anda mungkin dipengaruhi oleh interaksi pertamanya dengan bakteri. Jika ada perbedaan hasil kesehatan jangka panjang dengan pola (bakteri) yang berbeda, itu memberi tahu kita sesuatu yang sangat penting tentang kesehatan," ungkap Nigel Field, penulis senior dalam studi, dari University College London, dikutip dari Guardian.
Para peneliti melakukan studi selama tujuh tahun. Mereka melibatkan lebih dari seribu sampel tinja dari hampir 600 bayi dan sebanyak 175 ibu.
Sebenarnya, bayi dalam kondisi steril ketika di rahim. Namun kondisi ini berubah ketika mereka lahir dan terpapar dunia luar. Bayi mulai 'mengonsumsi' bakteri yang dengan cepat bisa menjajah usus.
Meski demikian, peneliti mengingatkan jangan sampai temuan ini membuat ibu yang sudah pernah Caesar atau berencana Caesar khawatir.
STUDIO TANGKAS adalah Agen Tangkas Online,
Agen Poker Online, Agen Poker GLX
Dapatkan BONUS CASHBACK TANGKAS 10% UNLIMITED
"Dalam banyak kasus, operasi Caesar adalah prosedur yang menyelamatkan jiwa dan bisa jadi pilihan tepat untuk seorang perempuan dan bayinya," kata Alison Wright, konsultan kebidanan dan wakil presiden Royal College of Obstetricians and Gynaecologists meyakinkan.
Lee dan ayahnya bekerja sebagai eksekutif di Office 39 untuk menjalankan perusahaan pelayaran, sebelum akhirnya melarikan diri dari Pyongyang ke Seoul dan kemudian ke AS.
"Tapi dia menjadi sedikit lebih berhati-hati dalam beberapa tahun terakhir tentang aktivitas ilegal. (Aktivitas) itu mendapat terlalu banyak perhatian dan terlihat buruk bagi Partai," kata Lee.
Menurut spesialis Asia di Park Strategies, Sean King, hingga awal 2000-an, diplomat Korea Utara yang bekerja atas nama Office 39 adalah orang-orang yang tak tahu malu untuk rezim.
"The Kim's (keluarga Kim) seperti keluarga kriminal terorganisir yang menyamar sebagai pemimpin suatu negara. Para diplomat dikirim ke luar negeri dengan kuota mata uang keras yang harus mereka kirim kembali, dengan cara apapun yang diperlukan. Kedutaan Korea Utara diorganisasikan seperti perusahaan kriminal multinasional," kata Sean.
Masih menurut keterangan Sean, banyak orang-orang yang disebut diplomat melintasi negara-negara di dunia. Mereka membawa minuman keras, rokok, dan obat-obatan yang diproduksi di Korea Utara atau barang selundupan lainnya ke kedutaan besar di seluruh dunia. Staf Office 39 juga menghasilkan uang untuk Kim dengan bertindak sebagai kurir narkoba lepas untuk negara lain.
Korea Utara masih memiliki sekitar 40 kedutaan, tapi pendapatan yang lebih besar dihasilkan dengan mengekspor tenaga kerja berupa budak.
Di wilayah Siberia, China, dan Rusia misalnya, pria Korea Utara melakukan pekerjaan seperti menebang kayu dan dipaksa untuk memberikan hampir semua upah mereka kepada pemerintah.
Penyelundupan narkoba memuncak pada awal 2000-an. Pada 2003, polisi Australia menemukan heroin senilai US$160 juta diturunkan ke pantai dari Pong Su, sebuah kapal kargo Korea Utara.
"Korea Utara mungkin masih terlibat dalam perdagangan narkotika, tapi tidak dengan sanksi resmi rezim hari ini," ujar seorang sarjana Korea Utara dari lembaga analis 38 North kepada The Post.
Pada 2017 lalu, mantan pejabat Office 39, Ri Jong-Ho yang membelot pada 2014 membeberkan sekilas tentang cara kerja Office 39.
Kepada kantor berita Jepang, dia mengatakan operasi Office 39 memiliki lima kelompok pusat yang diawaki oleh ribuan karyawan tingkat rendah, di mana sedikit dari mereka melakukan bisnis yang sah tapi banyak juga yang tidak.
Kepada Washington Post, Ri mengatakan bahwa ia bisa mendapatkan jutaan dolar AS ke Pyongyang hanya dengan menyerahkan sekantong uang kepada seorang kapten kapal yang meninggalkan kota pesisir China menuju pelabuhan Nampo, Korea Utara.
Ri memperkirakan, dia mengirim US$10 juta dengan cara itu hanya dalam sembilan bulan pertama di 2014.

Comments
Post a Comment